Pada satu-satunya penampilan mereka yang lain di final di Amerika pada tahun 1004, Yunani tak hanya sekadar pergi tanpa memenangkan pertandingan, namun juga tanpa menghasilkan gol sama sekali. Namun, banyak yang telah berubah sejak kemenangan mereka yang mengejutkan pada Euro 2004, dan tim Otto Rehhagel kali ini, memiliki harapan yang jauh lebih besar. Setelah berakhir sebagai yang kedua setelah Swiss pada kualifikasi grup mereka, Yunani mengalahkan Ukraina pada penyisihan dengan gol yang diciptakan oleh Dimitris Salpigidis, saat semua orang berpikir bahwa mereka akan tereliminasi, sehingga tim Rehhagel yang naik-turun ini, merupakan grup lawan yang tidak seharusnya diremehkan oleh Argentina, Korea Selatan dan Nigeria.
Tidak ada bintang besar dalam tim Yunani – belum pernah ada, bahkan pada Euro 2OO4 – namun tim yang lebih banyak bertahan ini sudah cukup banyak menerima disiplin dari pelatih asal Jerman berusia 71 tahun mereka yang keras kepala dan melibatkan empat veteran dari kejayaan Euro, bersama dengan beberapa pemain terbaru. Perpaduan tersebut memungkinkan Rehhagel untuk merasa lebih yakin bahwa jika timnya terhindar dari cedera dan para pemainnya tampil secara maksimal, maka ia akan dapat membawa Yunani ke babak penentuan. Jika pertahanan mereka tetap solid seĀmentara serangan mereka – yang diperkuat oleh Fanis Gekas, yang merupakan top skorer selama masa kualifikasi dengan 10 gol – lebih berkembang, maka Yunani akan mendapatkan peluang tersebut.
Yunani tahu bahwa Korea Selatan dan Nigeria berada dalam jangkauan kemampuan mereka, sementara meskipun Argentina menjanjikan tantangan di luar – terutama karena ini akan menjadi pertandingan terakhir pada tahap grup dan saat itu mungkin tim Diego Maradona sudah masuk kualifikasi dan lebih bersikap lebih santai.
“Tujuan utama kami adalah untuk masuk kualifrkasi Piala Dunia dan kami telah berhasil mewujudkannya. Kami bukan tim favorit, sehingga tidak mengalami tekanan,” ujar pemain pertahanan Giourkas Seitaridis, yang merupakan salah satu anggota di Euro 2OO4 – tim yang menjadi pemenang.
“Jika berhasil mencapai putaran berikutnya, berarti hal itu merupakan sebuah sukses yang luar biasa bagi kami. Namun, kami hanya akan berangkat ke Piala Dunia dan berusaha sebaik mungkin. Kami adalah tim solid yang jarang melewatkan kesempatan untuk mencetak gol dan jarang mengalami kekalahan. Pertahanan tidak hanya diperkuat pada bagian belakangnya saja, namun juga pada seluruh bagian tim. Hal itu merupakan kelebihan kami. Para kritikus mengatakan bahwa cara bermain kami tidak cukup menyenangkan, karena kami hanya tahu cara memperkuat pertahanan saja. Namun, kami lebih memfokuskan perhatian kepada bagaimana cara untuk memperoleh angka. Kemenangan di Euro 2004 membuat banyak orang merasa terganggu. Tidak ada yang berharap bahwa negara kecil seperti Yunani bisa menang. Saya percaya bahwa jika sebuah tim disebut, ‘mainkan sepakbola dengan gaya bertahan dan kau akan dapat memenangkan Pialal Dunia’, maka siapapun pasti akan menuruti nasihat tersebut. Tidak semua komentar bersifat positif.”
Jadi, ungkapan dari Yunani menyebutkan, siapa yang peduli dengan cara yang kau gunakan untuk menang, selama kau bisa tampil sebagai pemenangnya. Itu yang mereka lakukan pada tahun 2004, dan itu juga yang mereka harap dapat diraih di Afrika Selatan.
– sumber: World Soccer indonesia (Juni 2010)
Pelatih Yunani: Otto Rehhagel

Posted in
Tags: 