Awal tahun ini Nelson Haedo Valdes mengunkapkan kepada salah satu majalah Jerman: “Masyarakat Paraguay beranggapan bahwa ini merupakan tim nasional terbaik yang pernah kami miliki. Jika kami tidak berhasil lolos ke putaran kedua, sebaiknya kami tidak perlu berlibur!”
Namun, tidak lama setelah hasil wawancara tersebut dipublikasikan, tim Piala Dunia Paraguay mengalami sebuah guncangan hebat, saat pasangan Haedo Valdez dalam melancarkan serangan, Salvador Cabanas, tertembak kepalanya di Mexico City. Setelah duduk di bangku cadangan pada Piala Dunia yang lalu, seharusnya Cabanas sekarang sudah menjadi pemain kunci. Sebagai pencetak skor tertinggi, ia dapat disamakan dengan dua orang pemain dalam satu kemasan – berawal sebagai pemain tengah, selain itu ancaman golnya juga dapat berakibat fatal, terutama jika Roque Santa Cruz tetap fit dan Oscar Cardozo tampil baik seperti di klubnya. Selain itu, juga ada Haedo Valdes yang menggemparkan, serta pada tanggal 11, kemungkinan ia akan digabungkan dengan rekannya di Borussia Dortmund, Lucas Barrios, yang prosedur kewarganegaraannya telah diselesaikan pada bulan April.
Kali ini, harapan Paraguay cukup tinggi, bahwa mungkin mereka akan dapat memperoleh posisi di perempat final, terutama karena pelatih Cerardo Martino lebih menekankan kepada pola penyerangan dibandingkan dengan para pendahulunya. Pada Piala Dunia keempat mereka secara berturut-turut, Paraguay tidak akan melakukan perlawanan yang seadanya.
Dengan segenap kerendahan hati Martino segera mengungkapkan penghargaannya kepada Anibal Ruiz, pelatih kelahiran Uruguay, yang empat tahun lalu telah berhasil membawa tim mereka ke Jerman. “Kualifikasi yang dialaminya merupakan yang terpenting, karena ia berada di belakang sekelompok pemain yang hebat, yang berperan di Piala Dunia ]998 dan 2OO2,” kata Martino. “Dan generasi baru ini, yangjuga brilian, sedang berusaha untuk memulainya.”
Mungkin, hal yang paling luar biasa adalah: bahwa negara miskin yang memiliki sekitar enam juta penduduk yang berusaha mengatasi masalah kemiskinan, sepertinya telah berhasil menyingkirkan batu sandungan yang telah menjatuhkan negara-negara Afrika Selatan lain yang lebih besar. Peru pada tahun l97O-an, Kolombia pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, merupakan contoh klasik dari tim-tim yang telah mencapai keberhasilan dengan satu generasi pemain, hanya untuk jatuh kembali ke posisi yang sama. Sementara Paraguay tetap melangkah maju.
“Kekuatan kami terletak pada permainan kolektif yang kami lakukan,” ujar martino. “Bukan karena saya saja – karakteristik alami tim dan pemain Paraguay memang seperti ini.”
Dan di bawah asuhan pelatih yang ingin menyerang, negara ini berharap agar kerjasama tim dan sekelumit bakat yang mereka miliki, sudah akan cukup membantu mereka dalam meraih perempatfinal.
– sumber: World Soccer Indonesia (Juni 2010)
Pelatih Paraguay: Gerardo Martino

Posted in
Tags: 