Penggemar Meksiko tidak benar-benar tahu apa yang diharapkan dari tim mereka. Negara ini tampaknya terbagi menjadi kubu optimis, yang mengharapkan permainan bersejarah musim panas ini, dan kubu pesimis, yang berpikir kelompok mereka terlalu sulit untuk maju, dan mayoritas, meyakini bahwa mereka akan tereliminasi, seperti biasa, pada 16 besar.
Hasil baik yang ditorehkan tim ini sejak kedatangan Javier Aguirre (dua kekalahan dalam 17 pertandingan) membuat penggemarnya merasa percaya diri. Tetapi faktanya, mereka tidak pernah berhadapan dengan lawan yang benar-benar hebat – bersama dengan beberapa keputusan pelatih yang dipertanyakan – sedikit meredam rasa optimisme. Pertanyaan-pertanyaan dimulai saat terjadi gol, bagaimana Guillermo Ochoa menghadapi bagian terendah karirnya pada saat-saat terburuk. Ochoa tetap berada di tempatnya menggantikan Oswaldo Sanchez, satu-satunya pemain alternatif yang dapat diperhitungkan.
Negara ini juga dibagi atas peran Cuauhtemoc Blanco. Playmaker veteran ini berperan penting pada babak kualifikasi, namun ia tampak tidak bermain dengan baik lagi sejak kembali ke tanah airnya untuk bermain bagi Veracruz. Parahnya lagi, staf medis tim nasional telah melaporkan bahwa ia kelebihan berat badan 10 kg. Ia mungkin dapat bersemangat kembali di Afrika Selatan, tapi partisipasinya cenderung sangat minim, dan pastinya akan meninggalkan lubang besar di skuad karena kurangnya playmaker. Untuk menutupinya, Aguirre mencoba menggantinya dengan Adolfo Bautista, pemain berbakat nan eksentrik, yang telah bermain baik untuk Guadalajara.
Satu lagi berita buruk, Andres Guardado, pemain yang performancenya cukup baik belakangan ini, terkena cedera. Jika tidak 100% fit pada saatnya nanti, tentu akan menjadi hambatan besar bagi tim Meksiko.
Dari segi positif, saat ini tim Meksiko memiliki pemain muda luar biasa dari ‘generasi terbaik dalam sejarah Meksiko’ menurut Aguirre. Mereka dipimpin oleh duo emas Giovani Dos Santos dan Carlos Vela, yang selalu lebih baik dengan El Tri dibandingkan dengan teman tim klub mereka. Tapi permata sesungguhnya tampaknya adalah Javier Hernandez, Pablo Barrera, dan Efrain Juarez. Hernandez dapat dikatakan sebagai striker Meksiko terbaik sepanjang sejarah. Setidaknya ini diakui oleh Alex Fergusson, yang telah menggenggam pemain berusia 21 tahun tersebut untuk Manchester United sebelum harganya melambung tinggi setelah Piala Dunia nanti. Sedangkan Barrera adalah pemain sayap dan finisher yang dapat diandalkan. Ia telah menjadi ‘kartu As’ bagi Aguirre belakangan ini. Dan Juarez adalah bek kanan yang tak kenal lelah dengan sikap pantang menyerah.
Meksiko dapat dikatakan semacam Spanyol mini, sebuah tim teknis dengan tempo cepat. Namun kenyataan bahwa mereka tidak memiliki pengalaman berhadapan dengan tim papan atas membuat mereka sulit diprediksikan apakah akan pulang dengan membawa hasil yang baik atau yang buruk dari Afrika Selatan.
– sumber World Soccer Indonesia (Juni 2010)
Pelatih Meksiko: Javier Aguirre
Skuad Tim Meksiko: Kiper: (1) Oscar Perez, (13) Guillermo Ochoa, (23) Luis Michel Belakang: Francisco Rodriguez, (3) Carlos Salcido, (4) Rafael Marquez, (5) Ricardo Osorio, (12) Paul Aguillar, (15) Hector Moreno, (16) Efrain Juarez, (19) Jonny Magallon Tengah: (6) Gerrardo Torrado, (8) Israel Castro, (18) Andres Guardado, (20) Jorge Torres Depan: (7) Pablo Barrera, (9) Guillermo Franco, (10) Cuauhtemoc Blanco, (11) Carlos Vela, (14) Javier Hernandez, (17) Giovani Dos Santos, (21) Adolfo Bautista, (22) Alberto Media

Posted in
Tags: 