Kemurungan meliputi Aljazair, sementara Piala Dunia semakin dekat, dan negara ini terus menunggu dalam keputusasaan yang bertambah, sehubungan dengan stamina beberapa pemain kunci dalam formasi yang akan dibawa ke turnamen.
Bintang-bintang papan atas Aljazair tidak tampak banyak menampilkan aksinya dalam Piala Afrika di Angola, Januari lalu. Hal itu bukan karena sejak itu mereka hanya memperoleh satu tugas internasional – pada pertandingan di bulan Maret melawan Serbia – namun karena mereka cedera, atau tersisih dari tim klub mereka. Meskipun para pemain seperti Karim Ziani, Yazid Mansouri, Nadir Belhadj, Mourad Meghni, Rafik Halliche, Madjid Bougherra, Antar Yahia dan Hassan Yebda, selama beberapa bulan terakhir tidak terlalu banyak bersepakbola agar tampil prima di Piala Dunia, namun mereka tetap berangkat ke Afrika Selatan.
Pelatih Rabah Saadane mengatakan bahwa mereka terpilih untuk berpartisipasi dalam membantu negara mereka, karena pertandingan semifinal yang tak terduga di Piala Afrika, dan ia menegaskan bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali “mengharapkan yang terbaik” dalam pertandingan grup mereka melawan Slovenia, Amerika Serikat dan lnggris.
Cukup fatal, namun Aljazair tidak hanya diam dan berpangku tangan.
Federasi telah mengatur dan membiayai perjalanan ke Qatar demi keempat pemain pilihan pertama mereka, untuk mempercepat kepulihan mereka dari cedera yang mereka alami baru-baru ini. Meghni membutuhkan tiga minggu untuk memulihkan diri, sementara Boughherra, Belhadj dan Hameur Bouazza juga berjuang melalui sebuah klinik penyembuhan, di negara yang kaya akan minyak itu. Pada bulan di mana mereka harus bersiap-siap sebelum pertandingan pembuka, tim mereka akan berangkat ke Swiss untuk berlatih di gunung, untuk meniru kondisi yang akan mereka hadapi dalam pertandingan di ketinggan Afrika Selatan. Diharapkan para pemain sudah cukup fit pada saatnya nanti.
Yebda dikabarkan dalam bahaya karena tidak cukup fit untuk bertanding. Penampilannya dirusak oleh istirahat akibat cedera selama lima minggu, sebelum kembali beraksi dalam kemenangan semifinal Piala FA bersama klubnya, Portsmouth, melawan Tottenham Hotspur.
“Situasi ini dapat merugikan kami, karena kami tidak akan cukup siap untuk menghadapi turnamen yang melelahkan seperti Piala Dunia,” katanya.
Sebagai akibatnya, Aljazair tidak berharap terlalu banyak, meskipun pada dasarnya mereka percaya bahwa mereka mampu mengalahkan Slovenia pada pertandingan pembuka, dan juga berharap akan dapat menyingkirkan Amerika Serikat untuk mendapatkan posisi kedua di grup, serta maju ke babak penentuan. Pertandingan melawan Inggris menjadi yang terpenting dan Saadane seperti salah seorang fans pengejar bintang, yang sedang menguji nyalinya dengan melawan Fabio Capello.
Dengan demikian, kualifikasi Piala Dunia Aljazair dapat dikatakan sebagai sebuah keberuntungan yang tak terduga, setelah tersungkur selama bertahun-tahun. Kemenangan mereka yang dramatis dalam penyisihan melawan Mesir pada bulan November telah memberikan banyak kepuasan untuk mengatasi kekecewaan, yang mungkin akan mereka rasakan di Afrika Selatan.
– sumber World Soccer Indonesia (Juni 2010)
Pelatih Aljazair: Rabah Saadane

Posted in
Tags: 