Selama beberapa tahun terakhir, tim nasional Afrika Selatan telah memperoleh jam tayang di televisi yang sama banyaknya dengan acara komedi, saat mereka bertanding di depan kamera. Secara perlahan, Bafana Bafana menuruni peringkat FIFA dan penampilan mereka di lapangan yang kembali biasa-biasa saja, telah membuat mereka memperoleh serangkaian ejekan tanpa henti, yang terus-menerus dengan tajam menghujam ke dalam benak hampir setiap pemain. Tiada hari yang berlalu, tanpa adanya canda dari media mengenai tim ini, beserta tingkat kompetensi, maupun potensi mereka.
Namun, dengan semakin dekatnya Piala Dunia, hal tersebut sepertinya mengalami perubahan – mungkin karena Bafana Bafana akhir-akhir ini tidak terlalu banyak bertanding, namun besar kemungkinan karena kegembiraan yang memuncak dan persiapan sebelum dilangsungkannya turnamen. Pada beberapa minggu terakhir, para pakar sepakbola untuk pertama kalinya memperkirakan bahwa Afrika Selatan mungkin bisa lolos dari putaran pertama, yang menurut para penyelenggaranya dianggap sebagai sebuah skenario mimpi.
Hal yang sama tidak terjadi pada Desember lalu, saat Afrika Selatan memperoleh undian bersama Perancis, Meksiko dan Uruguay di Grup A – trio yang sama yang menjadi tuan rumah bagi lnggris yang sedang menuju ke kemenangan kandang mereka, pada tahun 1966. Afrika Selatan akan memasuki Piala Dunia dengan kemungkinan bahwa mereka akan menjadi tuan rumah pertama yang tidak adakan dapat mencapai tahap penentuan, selain Korea yang berada di peringkat FIFA yang lebih rendah.
Parreira telah berusaha untuk membangkitkan semangat dengan menyatakan bahwa dengan dukungan yang penuh gairah dan suara-suara yang dapat mengintimidasi lawan dari 95.000 kursi di Soccer City, maka hasil yang positif mungkin akan dapat diperoleh pada pertandingan pembuka melawan Meksiko, dan kesempatan tersebut mungkin bisa melancarkan perjalanan tim mereka pada masa yang sangat menentukan.
Persiapan dilakukan dengan meniru resep yang diterapkan oleh Guus Hiddink di Korea 2O02, dengan stamina sebagai target utamanya. Parreira secara intensif
mengikuti dua kamp pelatihan di Brasil dan Jerman, selama total sekitar tujuh minggu pada bulan Maret dan April. Namun tidak seperti Korea, Afrika Selatan telah melakukan semua persiapan tanpa melibatkan tim mereka.
Parreira memiliki ide yang unik, bahwa ia akan dapat membujuk manajer klub untuk membebaskan para bintang, seperti Beni McCarthy, Steven Pienaar, Aaron Mokoena, dan Tsepo Masilela dari dua bulan terakhir musim mereka, untuk mengikuti training bersama para pemain lokal mereka, yang liganya berakhir lebih cepat, untuk memberikan kesempatan kepada tim nasional agar dapat bersiap-siap selama tiga bulan. Pada kenyataannya, besar kemungkinan ia akan memperoleh pemain kunci yang berada dalam keadaan fisik yang buruk, saat mereka datang untuk mengikuti persiapan terakhir, pada pertengahan bulan Mei.
– sumber World Soccer Indonesia (Juni 2010)
Pelatih Afrika Selatan: Carlos Alberto Parreira
Skuad Tim Afrika Selatan: Kiper: (1) Moneeb Josephs, (16) Itumeleng Khune, (22) Shu-Aib Walters Belakang: (2) Siboniso Gaxa, (3) Tsepo Masilela, (4) Aaron Mokoena, (5) Anele Ngcongca, (14) Matthew Booth, (15) Lucas Thwala, (20) Bongani Khumalo, (21) Siyabonga Sangweni Tengah: (6) Macbeth Sibaya, (7) Lance Davids, (8) Siphiwe Tsahabalala, (10) Steven Pienaar, (11) Teko Modise, (12) Reneilwe Letsholonyane, (13) Kagisho Dikgacoi, (19) Surprise Moriri, (23) Thanduyise Khuboni Depan: (9) Katlego Mphela, (17) Bernard Parker, (18) Siyabonga Nomvethe

Posted in
Tags: 